Tepis Gempuran Digital, 51 Siswa SDIT Kita Najmi Hayati Sukses Diwisuda Jadi Penjaga Al-Qur'an
LUBUK BASUNG – Gempuran teknologi dan arus globalisasi digital kerap dituduh mengikis moral generasi muda. Namun, di bawah atap Yayasan Raudhatul Ulum pada Ahad (14/6), tuduhan itu patah. Sebanyak 51 siswa SDIT Kita Najmi Hayati Lubuk Basung justru tegak berdiri, memeluk Al-Qur'an, dan membuktikan bahwa cahaya iman masih menyala kokoh di dada mereka.
Hari itu, gelaran ganda Wisuda Tahfidz dan Haflah Akhirussunah kelas 6 sukses menyihir emosi siapa saja yang hadir. Isak tangis haru dari para orang tua pecah saat anak-anak mereka dipanggil satu per satu, membawa pulang gelar kehormatan sebagai penjaga kalam ilahi.
Acara ini dihadiri oleh jajaran tokoh penting regional. Tampak hadir Pengawas PAI, Masnur, S.Ag., M.S.I., yang datang mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam. Kehadirannya disambut hangat oleh Ketua Yayasan Raudhatul Ulum Buya Destri Ramadhan, S.T., Kepala SDIT Kita Najmi Hayati Yefron Putra, S.Pd.I., Gr., serta para pimpinan lembaga mitra seperti Kepala Rumah Tahfidz Qur'an (RTQ) Raudhatul Ulum, Kepala TK Bintang Kehidupan, dan Kepala SLB Najmi Hayati.
Di balik megahnya panggung, ada keringat dan dedikasi yang tak jemu. Ketua Pelaksana, Muhammad Ilham, S.Or., Gr., tak mampu menyembunyikan rasa bangganya saat memberikan laporan.
“Alhamdulillah acara ini dapat terlaksana berkat kerja sama yang solid dari seluruh panitia, dukungan yayasan dan ayah bunda selaku orang tua siswa.” Ujarnya
Dari 51 wisudawan tahun ini, grafik hafalan para siswa terbilang impresif. Ada yang mengantongi hafalan 1 juz, 5 juz, bahkan hingga 8 juz. Tepuk tangan riuh membahana saat dua nama disebut sebagai bintangnya: Azika Zahra, sang pemegang rekor hafalan 8 juz, dan Idris Jimran yang sukses mengunci 5 juz hafalan bersih.
Bagi Kepala SDIT Kita Najmi Hayati, Yefron Putra, S.Pd.I., Gr., momentum kelulusan ini punya arti yang jauh lebih dalam dari sekadar tradisi salam-salaman dan bagi ijazah.
“Dua agenda besar sekaligus kami rapel hari ini. Dan ingat, ini bukan sekadar seremonial kelulusan biasa. Ini adalah selebrasi atas tetesan air mata dan perjuangan anak-anak kita dalam menghafal Al-Qur'an. Ini cambuk motivasi agar mereka menjaga akhlak dan menjadikan Al-Qur'an kompas hidup di luar sana," tegas Yefron dengan nada bergetar”
Sorotan utama acara ini jatuh pada pidato berbobot yang disampaikan oleh Masnur, S.Ag., M.S.I. Mengawali sambutannya, perwakilan Kemenag Agam ini langsung melemparkan wejangan tajam kepada para wisudawan.
“Ingatlah pada hari ini bukanlah akhir perjalanan ananda bersama Al-Qur'an melainkan awal untuk lebih akrab dengan Al-Quran. Hafalan yang sudah didapatkan harus terus dimuraja'ah karena menjaga hafalan lebih sulit dari menghafal itu sendiri,” ujarnya.
Menghadapi dunia digital yang serba canggih, Masnur meminta anak-anak tidak boleh menjadi budak teknologi. Sebaliknya, teknologi harus ditundukkan untuk mendukung dakwah dan kemajuan ilmu. Beliau juga memuji ketabahan para ustadz, ustadzah, serta para orang tua yang menjadi benteng pertahanan anak-anak di rumah.
Namun, Masnur juga menyelipkan sebuah analogi kuat sebagai alarm keras bagi para orang tua dan lingkungan sekitar.
“Janganlah kita seperti membangun istana pasir di pantai. Istana sudah terbangun namun datang ombak yang menyapu. Seperti itu juga jangan sampai anak-anak kita telah dibina, dididik akhlak yang baik oleh ustadz dan ustadzah serta telah menjadi Hafidz dan Hafidzah,kemudian rusak oleh lingkungan sekitar. Pandai-pandailah menjaganya yang telah terbangun tersebut,” ujar Masnur.
Diakhir acara disuguhkan penampilan dari siswa dari kelas 1 sampai kelas 5 serta pemberian hadiah bagi siswa peraih nilai TKA tertinggi, siswa peraih nilai akhir terbaik dan siswa peraih hafalan terbanyak. Kegiatan dilanjutkan foto bersama.
Reporter (MHD.IRSYAD)
Editor Mursyidi


0 Komentar