Menuju Tuhan Melalui Jalan Berbeda: Dr. Irwandi Nashir Kupas Titik Temu Tarekat NU dan ‘Irfani Muhammadiyah
Februari 08, 2026
Menuju Tuhan Melalui Jalan Berbeda: Dr. Irwandi Nashir Kupas Titik Temu Tarekat NU dan ‘Irfani Muhammadiyah
Sijunjung Palantanusa.com- Selama ini, publik sering kali melihat perbedaan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah hanya dari kacamata hukum fikih atau ritual lahiriah semata. Namun, di balik perbedaan jumlah rakaat tarawih atau penggunaan qunut, terdapat kedalaman filosofi spiritualitas yang menjadi fondasi kedua ormas ini dalam menjaga napas keislaman di Indonesia.
Hal tersebut menjadi topik hangat perbincangan antara Warta Pendidikan dan Dr. Irwandi Nashir, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Payakumbuh, usai menjadi narasumber Pengajian Ahad Shubuh di masjid Ansharullah Muhammadiyah Payakumbuh, Ahad (18/1/2026), dengan tajuk Di Balik Ayat-Ayat I’tishom.
Dua Jalur, Satu Tujuan
Dalam bincang tersebut, Dr. Irwandi Nashir mengulas esensi perbedaan antara konsep “Tarekat” yang kental di lingkungan NU dan “Irfani” yang menjadi napas pergerakan Muhammadiyah. Irwandi menegaskan, keduanya adalah dua jalan berbeda menuju Tuhan yang satu.
“Bagi warga Nahdliyin, spiritualitas adalah pendakian vertikal. Ada peran Mursyid sebagai pemandu agar pencarian Tuhan tidak tersesat. Ini adalah jalan sunyi untuk membersihkan hati,” ujarnya merujuk pada tradisi al-Jam’iyyah ath-Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah.
Di sisi lain, akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Bukittinggi itu meluruskan anggapan keliru yang menyebut Muhammadiyah “kering” akan aspek spiritual. Menurutnya, Muhammadiyah justru membumikan spiritualitas tersebut melalui aksi nyata.
“Spiritualitas Muhammadiyah itu ‘Irfan, yaitu sebuah pemahaman mendalam yang diwujudkan dalam amal usaha. Warga Muhammadiyah itu tidak hanya berlama-lama di atas sajadah, tapi zikir mereka adalah zikir eksistensial. Membangun rumah sakit, mengelola ribuan sekolah, dan terjun ke lokasi bencana melalui MDMC adalah bentuk pengabdian kepada Allah Ta’ala melalui pelayanan manusia,” jelas Irwandi.
Harmoni Dua Sayap Garuda
Irwandi Nashir menekankan bahwa kehadiran NU dan Muhammadiyah adalah anugerah bagi bangsa Indonesia. Ia mengibaratkan keduanya sebagai dua sayap yang menjaga keseimbangan NKRI.NU dianggap menjaga “gawang” spiritualitas batin bangsa agar masyarakat tidak kehilangan jiwa dan ketenangan melalui tradisi tahlilan serta istighosah.
Muhammadiyah menjaga “gawang” akal sehat dan kesejahteraan fisik bangsa melalui modernisasi pendidikan dan kesehatan.
“Kita butuh keduanya. Tanpa zikir NU, bangsa ini mungkin kehilangan jati diri spiritualnya. Tanpa amal usaha Muhammadiyah, bangsa ini akan tertinggal oleh zaman yang terus bergerak maju,” tambahnya dengan lugas.
Pesan untuk Generasi Alpha
Di akhir perbincangan, Irwandi mengajak jamaah dan masyarakat luas untuk tidak lagi terjebak dalam dikotomi yang memecah belah. Sebaliknya, perbedaan ini harus dilihat sebagai kekayaan khazanah Islam Indonesia. Baik itu melalui jalur wuṣûl (sampai kepada Allah melalui tarekat) maupun jalur ihsan (perbaikan peradaban melalui amal nyata), keduanya bermuara pada kesalehan yang sama.
Diskusi setelah Pengajian Ahad Shubuh di Masjid Ansharullah hari itu pun ditutup dengan optimisme bahwa harmoni antara “jalan sunyi” dan “jalan ramai” ini, akan terus menjadi pilar kokoh bagi peradaban Islam di masa depan.
Hal tersebut menjadi topik hangat perbincangan antara Warta Pendidikan dan Dr. Irwandi Nashir, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Payakumbuh, usai menjadi narasumber Pengajian Ahad Shubuh di masjid Ansharullah Muhammadiyah Payakumbuh, Ahad (18/1/2026), dengan tajuk Di Balik Ayat-Ayat I’tishom.
Dua Jalur, Satu Tujuan
Dalam bincang tersebut, Dr. Irwandi Nashir mengulas esensi perbedaan antara konsep “Tarekat” yang kental di lingkungan NU dan “Irfani” yang menjadi napas pergerakan Muhammadiyah. Irwandi menegaskan, keduanya adalah dua jalan berbeda menuju Tuhan yang satu.
“Bagi warga Nahdliyin, spiritualitas adalah pendakian vertikal. Ada peran Mursyid sebagai pemandu agar pencarian Tuhan tidak tersesat. Ini adalah jalan sunyi untuk membersihkan hati,” ujarnya merujuk pada tradisi al-Jam’iyyah ath-Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah.
Di sisi lain, akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Bukittinggi itu meluruskan anggapan keliru yang menyebut Muhammadiyah “kering” akan aspek spiritual. Menurutnya, Muhammadiyah justru membumikan spiritualitas tersebut melalui aksi nyata.
“Spiritualitas Muhammadiyah itu ‘Irfan, yaitu sebuah pemahaman mendalam yang diwujudkan dalam amal usaha. Warga Muhammadiyah itu tidak hanya berlama-lama di atas sajadah, tapi zikir mereka adalah zikir eksistensial. Membangun rumah sakit, mengelola ribuan sekolah, dan terjun ke lokasi bencana melalui MDMC adalah bentuk pengabdian kepada Allah Ta’ala melalui pelayanan manusia,” jelas Irwandi.
Harmoni Dua Sayap Garuda
Irwandi Nashir menekankan bahwa kehadiran NU dan Muhammadiyah adalah anugerah bagi bangsa Indonesia. Ia mengibaratkan keduanya sebagai dua sayap yang menjaga keseimbangan NKRI.NU dianggap menjaga “gawang” spiritualitas batin bangsa agar masyarakat tidak kehilangan jiwa dan ketenangan melalui tradisi tahlilan serta istighosah.
Muhammadiyah menjaga “gawang” akal sehat dan kesejahteraan fisik bangsa melalui modernisasi pendidikan dan kesehatan.
“Kita butuh keduanya. Tanpa zikir NU, bangsa ini mungkin kehilangan jati diri spiritualnya. Tanpa amal usaha Muhammadiyah, bangsa ini akan tertinggal oleh zaman yang terus bergerak maju,” tambahnya dengan lugas.
Pesan untuk Generasi Alpha
Di akhir perbincangan, Irwandi mengajak jamaah dan masyarakat luas untuk tidak lagi terjebak dalam dikotomi yang memecah belah. Sebaliknya, perbedaan ini harus dilihat sebagai kekayaan khazanah Islam Indonesia. Baik itu melalui jalur wuṣûl (sampai kepada Allah melalui tarekat) maupun jalur ihsan (perbaikan peradaban melalui amal nyata), keduanya bermuara pada kesalehan yang sama.
Diskusi setelah Pengajian Ahad Shubuh di Masjid Ansharullah hari itu pun ditutup dengan optimisme bahwa harmoni antara “jalan sunyi” dan “jalan ramai” ini, akan terus menjadi pilar kokoh bagi peradaban Islam di masa depan.
Editor Mursyidi

0 Komentar